Kamis, 16 Januari 2014

"The 27 Club"

"Usia 27 adalah usia yang special" ~kata teman saya ketika dia menginjak usia 27 tahun.
"Kenapa?"
Kabarnya ada semacam perasaan yang hanya timbul pada usia ini.

Usia 27 tahun, umur yang menurut perspektif normal justru dikategorikan “produktif”, sedang segar-segarnya untuk bergiat melakoni hidup. Hari-hari terasa secepat laju kereta api Shinkansen dan sedahsyat semburan gunung Krakatau. Ruang hampa akan ada dimana-mana, tapi ruang party juga dimana-mana. Ada yang bilang diusia 27 tahun hidup tidak mudah, well kalau dipikir-pikir diusia mana sih yang mudah? Seperti main game, disetiap level pasti ada kesulitan. Paling cuma kadar kesulitan yang membedakannya.

Seperti kekasih, pemikiran-pemikiran akan datang dan pergi. Selama 27 tahun hidup, seharusnya kemahiran berfikir secara kreatif, kritis, positif dan negatif sudah terlatih. Masih merasa gelisah? Wajar. Kegelisahan adalah ciri-ciri anak muda. Masih alay? MAN! Masa itu harusnya berakhir waktu Elo dapet gelar sarjana keleees.

Sekarang saya berusia 27 tahun. Usia yang sama ketika Brian Jones, Alan Wilson, Kurt Cobain, Jimi Hendrix, dan Jim Morrisson tutup usia. Fenomena ganjil “wafat di usia 27″ yang banyak terjadi pada musisi rock oleh pengamat subkultur diistilahkan dengan “27 Club” sebagian menjuluki sebagai “Forever 27 Club”.
Berada menjadi salah satu living legends, dipuncak kejayaan, dielu-elukan fans menjadikan kematian mereka terasa sentimentil. Bahkan Wikipedia punya list khusus "27 Club" untuk para musisi terkenal yang meninggal dunia pada usia ini.

Gambar : http://bit.ly/1dxYAFO
One thing lead to another. Seniman, Entertainer, dan Penulis termasuk pekerjaan dengan tingkat depresi tinggi. Orang-orang kreatif cenderung memiliki tingkat lebih tinggi rentan terhadap gangguan mood. Penyebab kematian pada anggota "Forever 27 Club" ini beragam, yang paling sering ditemui adalah drug overdose, Suicide, Car accident. 

Saya berusia 27 tahun, saya bukan rock star. Saya berharap untuk kamu yang sedang berusia 27 tahun (atau yang akan berusia 27 tahun) have a blessed year ahead! Tetap bertahan hidup! Appreciate more, love more, kiss more, have a party, express yourself more, laugh, run, travel, swim, visit your parents more ;) Breathe, LIVE!

Minggu, 12 Januari 2014

CYBERBULLYING OH CYBERBULLIYING (Tips jika kamu jadi korban cyberbulliying)

Pagi ini saya melihat klip Lorde - Royals di TV. Ony teman sekosan saya tiba-tiba masuk,
"Eh ini si Lorde? yang pacarnya di cyberbully yah?"
Memang betul.. James Lowe adalah korban Cyberbullying.

Lorde, 16, 

Dating Photographer 

James Lowe, 24

Courtesy Of Instagram

Rumor menyebutkan bahwa Lorde pernah mengolok-olok musisi seperti Bibber dan One Direction. Rumor ini sudah cukup mengirim ribuan fans mereka untuk membully Lowe habis-habisan.

Serangan ini tidak hanya soal fisik Lowe yang tidak rupawan, tapi yang lebih buruk adalah mereka mempermasalahkan ras Lowe. Yap, jadi bullying ini berfokus pada jelek & cina!

Ada sebuah klip Lowe yang sedang membacakan satu-persatu kalimat yang mengolok-olok dirinya. Diantaranya "Jika kamu bisa memilih warna kulit, warna kulit apa yang akan kamu pilih?"

Padahal menurut Daily News,  Lorde belum pernah dikutip mengatakan sesuatu yang negatif tentang para penyanyi tersebut. Tidak ada bukti kuat bahwa Lorde pernah mengatakan apa-apa tentang One Direction atau penampilan Bieber.

Ini hanya contoh kecil dari ratusn mungkin ribuan cyberbullying yang terjadi diseluruh dunia. Banyak kasus lain yang berakir dengan korban mengakhiri hidupnya. Masih ingat korban Cyberbullying asal Yogyakarta, Yoga Cahyadi yang menghabisi nyawanya sendiri karena tekanan dan hujatan akibat gagalnya acara musik Locstock Fest 2. Dalam kicawan terakhirnya Yoga mengucapkan "Trimakasih atas sgala caci maki @locstockfest2..ini gerakan..gerakan menuju Tuhan..salam".

Yuk mulai dari kita sendiri, jangan sampai kegiatan kita di sosial media atau di forum lainnya terkait dengan cyberbullying. Misalnya memang pasti gatel banget pengen ikutan mencela celotehannya Farhat Abas di akun @farhatabbaslaw tapi sebenar-benarnya kalau kita tanya pada diri kita sendiri kan sama sekali gak ada manfaatnya. Malah jadinya kita ikut mengsukseskan kegiatan cyberbullying.

Ada dua sisi dalam cyberbullying yaitu sisi pelaku dan sisi korban, nah inilah hal-hal yang bisa kita lakukan kalau kita berada disisi korban: (Dikutip dari beberapa portal informasi sebelah)

1. JANGAN MERESPON! Ini adalah fase yang paling susah. Tapi begitu kita merespon, keadaan akan menjadi juh lebih buruk. 
2. SIMPAN BUKTI! Dengan tidak merespon cyberbully bukan berarti kita hanya diam dan tidak berbuat apa-apa. Segera capture dan simpan pesan, gambar atau materi pengganggu lainnya yang dikirim pelaku. Lalu jadikan sebagai barang bukti saat melapor ke pihak-pihak yang bisa membantu.
3. PUTUSKAN KOMUNIKASI! Blok akun pelaku Cyberbully. Tenangkan diri, jauhi akses dunia maya. Dengan begitu aksi pelaku akan menjadi sia-sia.
4. AJUKAN KELUHAN! Ada fitur "report abuse" pada Facebook dan Twitter, ini dapat membuat si akun pem-bully terblokir. Atau minta bantuan teman-teman untuk bersama-sama mengklik tombol "report as spam" pada Twitter agar si pelaku di-deaktivasi oleh admin Twitter. Jika serangan datang melalui email, kita dapat melaporkannya ke penyedia layanan tempat si pelaku cyberbully mengakses Internet.
5. AMBIL TINDAKAN HUKUM! Jika si pelaku cyberbully sudah berlaku lebih jauh lagi dengan meneruskan serangan dan menjelekkan di forum publik, jangan takut untuk mengambil jalur hukum. Hubungi teman atau orang yang memahami aspek hukum, dan coba bicara dengan mereka, tindakan apa yang tepat. (Sumber tips:Internet Sehat)