Rabu, 08 Agustus 2012

Rumah Kosong Ujung Jalan


Ada sebuah rumah kosong di ujung jalan dekat rumahku, didepannya ada sebuah halaman. Pada siang hari anak-anak sering bermain badminton atau bola di sana. Rumah itu kosong semenjak aku kecil, neneku melarang bermain disekitar rumah itu dan selalu berkata rumah itu ada setannya. Aku yang masih 8 tahun percaya saja, kemudian aku mulai membangun imajinasi-imajinasi mengenai rumah itu.
Bila dirawat rumah itu mungkin bisa jadi rumah yang indah. Didepannya ada sebuah pohon beringin, anak-anak perempuan memasang ayunan disana. Daun-daun pohon beringin berserakan di teras rumah, dua kaca jendela di rumah itu pecah entah karena apa.
Pada sebuah magrib aku melawati rumah itu dengan teburu-buru, langit mendung gerimis mulai turun. Mataku tidak tahan untuk melirik rumah kosong itu.
Gelap, tak ada siapa-siapa. Kemudian sekitar 25 meter dari rumah itu aku melewati warung Bu Inah, warungnya rame sekali banyak pemuda yang genjrang-genjreng disana. Aku tergesa-gesa melewatinya karena biasanya mereka akan mulai menggoda memanggil-manggil namaku.
Pada pukul 21.15 aku mendapat telpon dari Kania teman sekampusku. Dia bilang dia mau kerumah mengembalikan buku, tapi mobilnya tak bisa lewat karna ada sebuah mobil bak yang mogok di dekat warung.
“Sin jemput gw dimobil dong, gw gak bawa payung”
“Lo ada di mana sekarang?”
“Gw parkir dilapangan depan rumah yang kaca jendelanya pecah, cepet ya gw pengen pipis”
Hujan diluar lumayan besar, barusan aku agak lama mencari payung karna lupa menyimpannya. Wah Kania pasti ngamuk nih, pikirku. Aku kembali berjalan cepat melewati para pemuda yang genjrang-genjreng di warung. Tak lama aku telah tiba di halaman rumah kosong itu, mobil Kania ada tepat di depannya, gelap.
Aku mendekati bangku supir, ku intip dari luar jendela mobil. Kosong, mobil itu tidak ada penumpangnya. Aku menengok ke kanan dan kekiri hanya ada jalan sepi dan rumah kosong. Kira-kira kemana Kania pergi? Toilet, pasti dia kebelet pipis tebakku. Ku telpon Hp nya tapi tidak aktif. Aku telah berdiri di depan rumah itu selama 10 menit dengan gelisah.
Tiba-tiba aku menoleh ke arah rumah kosong. Ada pikiran bahwa mungkin Kania pergi ke toilet dirumah itu. Ah gila, aku bergidik. Tapi kemudian kepalaku menoleh lagi ke rumah itu. Lalu kaki ku melangkah kearah sana.
Sesampainya di teras aku menutup payung yang kubawa, ku senderkan di diding. Pintu depan rumah itu setengah terbuka, aku melewatinya sambil memanggil-manggil nama Kania. Ruang tamu rumah itu minim cahaya, hanya ada cahaya dari luar yang masuk melalui dua buah jendela yang kacanya pecah. Langit-langitnya yang bocor seperti mau rubuh. Aku perlahan-lahan melewati ruangan itu menuju ruangan selanjutnya. Di pintu ruang tengah aku berdiri membeku, ketakutan menjalar dari telapak kaki hingga ke kepala. Ruangan itu sangat gelap dan bau apek. Aku sangat takut pada kegelapan yang mencekam ini dan tak sanggup meneruskan langkahku.
Aku membalikan badanku dan akan berlari ketika ada sosok besar yang berdiri di depan pintu depan. Sangat terkejut kemudian aku berlari kepojok ruangan dan berteriak-teriak. Doa-doa yang ku hapal meluncur dari mulutku. Kedua tanganku ku tempelkan di wajah. Sesekali kulihat arah pintu tapi sosok itu masih ada, laki-laki bembut gondrong memakai jaket tebal seperti jubah mukanya gelap tapi bisa kurasakan ia menatap ke arahku.
Aku menangis ketakutan menutup muka dengan kedua tangannku. Kemudia sebuah tangan menguncang pundakku, aku berteriak keras.
                Orang-orang memanggil namaku
“Sinta…. Sinta…”
                Kubuka mataku, yang menggoncang bahuku tadi ternyata seorang bapak-bapak memakai peci, ada Kania, pemuda-pemuda, dan bu Inah pemilik warung. Mereka berdiri menatapku dengan wajah hawatir.
                Beberapa orang mengantarku ke rumah, langsung ku peluk ibu dan menangis histeris. Malamnya aku tidur ditemani kakak, badanku panas tinggi.

                Dua hari kemudian Kania menengoku di rumah. Dia bercerita pada malam itu dia sangat ingin buang air kecil sehingga dia pergi ke warung untuk ikut ke toilet. Karena takut menunggu di depan rumah kosong maka ia memutuskan untuk mencegatku di warung. Mungkin karena aku menutupi kepalaku dengan payung dan berjalan cepat-cepat saat melewati warung, Kania tidak melihat aku lewat.
                Kemudian seorang bapak-bapak yang melintasi rumah kosong mendengar teriakan-teriakan. Ia langsung berlari kewarung dan mengajak warga mendatangi rumah itu, karena dia menyangka ada pemerkosaan.
                Sosok yang aku lihat adalah si Abeng, orang gila yang kadang-kadang tidur di rumah itu. Aku sering melihat si Abeng ini mangkal di Sd, tapi mungkin karena gelap aku sama sekali tidak menyangka itu dia.
                “Kania bener itu aja? Gada yang lain?” tanyaku.
                “Gw cerita semuanya gada yang kelewat kok. Emang kenapa?’
                “Ga papa”
                Karna sebenarnya pada malam itu saat aku melihat sosok besar dan gelap, di sebelahnya aku melihat sosok nenek-nenek memekai kebaya, rambutnya putih dan melambai-lambaikan tangannya ke arahku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar