Ada sebuah rumah kosong di ujung
jalan dekat rumahku, didepannya ada sebuah halaman. Pada siang hari anak-anak
sering bermain badminton atau bola di sana. Rumah itu kosong semenjak aku kecil,
neneku melarang bermain disekitar rumah itu dan selalu berkata rumah itu ada
setannya. Aku yang masih 8 tahun percaya saja, kemudian aku mulai membangun
imajinasi-imajinasi mengenai rumah itu.
Bila dirawat rumah itu mungkin bisa
jadi rumah yang indah. Didepannya ada sebuah pohon beringin, anak-anak
perempuan memasang ayunan disana. Daun-daun pohon beringin berserakan di teras
rumah, dua kaca jendela di rumah itu pecah entah karena apa.
Pada sebuah magrib aku melawati
rumah itu dengan teburu-buru, langit mendung gerimis mulai turun. Mataku
tidak tahan untuk melirik rumah kosong itu.
Gelap, tak ada siapa-siapa. Kemudian
sekitar 25 meter dari rumah itu aku melewati warung Bu Inah, warungnya rame
sekali banyak pemuda yang genjrang-genjreng disana. Aku tergesa-gesa
melewatinya karena biasanya mereka akan mulai menggoda memanggil-manggil
namaku.
Pada pukul 21.15 aku mendapat
telpon dari Kania teman sekampusku. Dia bilang dia mau kerumah mengembalikan
buku, tapi mobilnya tak bisa lewat karna ada sebuah mobil bak yang mogok di
dekat warung.
“Sin jemput gw dimobil dong, gw gak
bawa payung”
“Lo ada di mana sekarang?”
“Gw parkir dilapangan depan rumah
yang kaca jendelanya pecah, cepet ya gw pengen pipis”
Hujan diluar lumayan besar, barusan
aku agak lama mencari payung karna lupa menyimpannya. Wah Kania pasti ngamuk nih,
pikirku. Aku kembali berjalan cepat melewati para pemuda yang genjrang-genjreng
di warung. Tak lama aku telah tiba di halaman rumah kosong itu, mobil Kania ada
tepat di depannya, gelap.
Aku mendekati bangku supir, ku intip
dari luar jendela mobil. Kosong, mobil itu tidak ada penumpangnya. Aku menengok
ke kanan dan kekiri hanya ada jalan sepi dan rumah kosong. Kira-kira kemana
Kania pergi? Toilet, pasti dia kebelet pipis tebakku. Ku telpon Hp nya tapi
tidak aktif. Aku telah berdiri di depan rumah itu selama 10 menit dengan
gelisah.
Tiba-tiba aku menoleh ke arah rumah
kosong. Ada pikiran bahwa mungkin Kania pergi ke toilet dirumah itu. Ah gila,
aku bergidik. Tapi kemudian kepalaku menoleh lagi ke rumah itu. Lalu kaki ku
melangkah kearah sana.
Sesampainya di teras aku menutup
payung yang kubawa, ku senderkan di diding. Pintu depan rumah itu setengah
terbuka, aku melewatinya sambil memanggil-manggil nama Kania. Ruang tamu rumah
itu minim cahaya, hanya ada cahaya dari luar yang masuk melalui dua buah
jendela yang kacanya pecah. Langit-langitnya yang bocor seperti mau rubuh. Aku
perlahan-lahan melewati ruangan itu menuju ruangan selanjutnya. Di pintu ruang
tengah aku berdiri membeku, ketakutan menjalar dari telapak kaki hingga ke
kepala. Ruangan itu sangat gelap dan bau apek. Aku sangat takut pada kegelapan
yang mencekam ini dan tak sanggup meneruskan langkahku.
Aku membalikan badanku dan akan
berlari ketika ada sosok besar yang berdiri di depan pintu depan. Sangat
terkejut kemudian aku berlari kepojok ruangan dan berteriak-teriak. Doa-doa
yang ku hapal meluncur dari mulutku. Kedua tanganku ku tempelkan di wajah. Sesekali
kulihat arah pintu tapi sosok itu masih ada, laki-laki bembut gondrong memakai
jaket tebal seperti jubah mukanya gelap tapi bisa kurasakan ia menatap ke
arahku.
Aku menangis ketakutan menutup muka
dengan kedua tangannku. Kemudia sebuah tangan menguncang pundakku, aku
berteriak keras.
Orang-orang
memanggil namaku
“Sinta…. Sinta…”
Kubuka mataku,
yang menggoncang bahuku tadi ternyata seorang bapak-bapak memakai peci, ada
Kania, pemuda-pemuda, dan bu Inah pemilik warung. Mereka berdiri menatapku
dengan wajah hawatir.
Beberapa
orang mengantarku ke rumah, langsung ku peluk ibu dan menangis histeris.
Malamnya aku tidur ditemani kakak, badanku panas tinggi.
Dua
hari kemudian Kania menengoku di rumah. Dia bercerita pada malam itu dia sangat
ingin buang air kecil sehingga dia pergi ke warung untuk ikut ke toilet. Karena
takut menunggu di depan rumah kosong maka ia memutuskan untuk mencegatku di
warung. Mungkin karena aku menutupi kepalaku dengan payung dan berjalan
cepat-cepat saat melewati warung, Kania tidak melihat aku lewat.
Kemudian
seorang bapak-bapak yang melintasi rumah kosong mendengar teriakan-teriakan. Ia
langsung berlari kewarung dan mengajak warga mendatangi rumah itu, karena dia
menyangka ada pemerkosaan.
Sosok
yang aku lihat adalah si Abeng, orang gila yang kadang-kadang tidur di rumah
itu. Aku sering melihat si Abeng ini mangkal di Sd, tapi mungkin karena gelap
aku sama sekali tidak menyangka itu dia.
“Kania
bener itu aja? Gada yang lain?” tanyaku.
“Gw
cerita semuanya gada yang kelewat kok. Emang kenapa?’
“Ga
papa”
Karna
sebenarnya pada malam itu saat aku melihat sosok besar dan gelap, di sebelahnya
aku melihat sosok nenek-nenek memekai kebaya, rambutnya putih dan
melambai-lambaikan tangannya ke arahku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar