Tahun lalu ketika saya pulang dari BEC di angkot jurusan Caringin-Dago saya ingin sedikit "haha hihi" soalnya ada dua orang waria yang menarik perhatian saya. Si A memakai pakaian serba minim, rok mini, baju ketat, rambut pirang tergerai sebahu, stocking dan heels. Sedangkan si B "o may gad" BERHIJAB!!!! baju tertutup, tapi tetap full make up, dengan kerudung ala-ala kerudung untuk nikahan atau untuk wisudaan.
Apakah waria ini waria yang sudah tobat? Hijab wave bener-bener powerful, dampaknya kemana-mana.
Bagaimana sih perasaan saya soal waria?
Apakah saya takut? Jijik? atau gabungan keduanya?
Di dunia saya yang sempit, saya bingung harus bersikap apa. Acuh sepertinya pilihan yang mudah.
Sebetulnya saya tidak merasakan apa-apa terhadap mereka. Bahkan tidak kasihan sedikitpun. Saya tidak mau dikasihani orang, mereka pun pasti tidak mau dikasihani.
Jijik? Well saya lebih jijik sama dosen saya yang haus pujian dan pilih kasih waktu kuliah dulu.. haha..
Saya pun tidak takut sama mereka.
Ada sebuah headline disalah satu portal berita online yang saya temukan
"Waria Bisa Bertahan Tanpa Jajakan Diri di Jalanan"
Mereka mungkin waria tapi saya pikir tidak semua waria pelacur.
Siapa coba paling bersemangat ngamennya di Cikapayang?
Siapa yang ngamennya sambil tebar-tebar senyum ramah dan sedikit colek-colek dikolong jembatan Pasupati?
Siapa yang bikin kita ketawa-ketawa didalem angkot ngeliat tingkah mereka yang lagi ngamen?
WARIA
Bulan Mei Lalu seorang waria ditemukan tewas di Jl. Prabu Dimuntur. Apa itu waria yang seangkot dengan saya? Saya kok tidak bisa lupa sama si dia yang berhijab waktu itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar