Ada sebuah rumah kosong di ujung
jalan dekat rumahku, didepannya ada sebuah halaman. Pada siang hari anak-anak
sering bermain badminton atau bola di sana. Rumah itu kosong semenjak aku kecil,
neneku melarang bermain disekitar rumah itu dan selalu berkata rumah itu ada
setannya. Aku yang masih 8 tahun percaya saja, kemudian aku mulai membangun
imajinasi-imajinasi mengenai rumah itu.
Bila dirawat rumah itu mungkin bisa
jadi rumah yang indah. Didepannya ada sebuah pohon beringin, anak-anak
perempuan memasang ayunan disana. Daun-daun pohon beringin berserakan di teras
rumah, dua kaca jendela di rumah itu pecah entah karena apa.
Pada sebuah magrib aku melawati
rumah itu dengan teburu-buru, langit mendung gerimis mulai turun. Mataku
tidak tahan untuk melirik rumah kosong itu.